Skema Ponzi Bernama Siklus Hidup
Pernah tidak kamu perhatikan foto wisuda anak TK? Itu adalah momen paling absurd sekaligus paling jujur dalam hidup manusia. Bocah lima tahun dipakaikan toga, disuruh senyum sambil memegang gulungan kertas kosong, lalu orang tuanya bertepuk tangan bangga.
Tanpa sadar, itu adalah tanda tangan kontrak pertama kita dengan sistem. Sebuah persetujuan diam-diam bahwa kita bersedia menukar dua dekade pertama untuk "belajar", empat dekade berikutnya untuk "membayar", dan sisa remah-remah waktunya-kalau jantung masih berdetak-untuk "hidup".
Kita semua seolah mendaftar pada layanan berlangganan premium yang fitur utamanya baru bisa diakses saat baterai perangkatnya tinggal 10 persen.
Investasi Bodong Berkedok Kurikulum
Dua puluh tahun. Itu bukan waktu yang sebentar. Kita menghabiskan masa di mana otak sedang encer-encernya untuk menghapal nama latin tumbuhan paku dan menghitung kecepatan bola menggelinding di bidang miring yang licin sempurna. Padahal di dunia nyata, tidak ada bidang yang licin sempurna; semuanya kasar, penuh gesekan, dan seringkali bikin tergelincir bukan karena fisika, tapi karena politik di kehidupan bermasyarakat dan mungkin, kantor.
Kita dididik dengan mentalitas pabrik. Masuk jam 7, pulang jam 2, duduk rapi, jangan membantah. Itu bukan pendidikan, itu simulasi kepatuhan. Sekolah tidak mengajarkan kita cara mengelola pajak, cara bangkit dari patah hati tanpa alkohol, atau cara bernegosiasi gaji agar tidak dimakan inflasi.
Kamu keluar dari gerbang kampus dengan keyakinan bahwa ijazah itu adalah tiket emas. Nyatanya, itu cuma tiket masuk antrean. Antrean panjang pelamar kerja yang sama-sama bingung kenapa rumus integral tidak bisa dipakai untuk membayar tagihan listrik. Kita menghabiskan masa muda untuk mempersiapkan masa depan, sampai lupa kalau masa muda itu sendiri adalah bagian dari hidup yang harusnya dinikmati, bukan cuma dikorbankan.
Empat Puluh Tahun Menjadi Baterai Cadangan
Selamat datang di fase "kerja". Ini adalah fase terpanjang, paling melelahkan, dan anehnya, paling kita agung-agungkan. Empat puluh tahun kita dedikasikan untuk memutar roda ekonomi orang lain, berharap cipratannya cukup untuk membeli rumah yang lokasinya makin lama makin minggir ke perbatasan provinsi.
Di fase ini, waktu bukan lagi milik kita. Waktu adalah komoditas yang kita jual eceran per delapan jam (atau lebih, mari tidak naif). Senin sampai Jumat adalah hari di mana kita menahan napas, dan Sabtu-Minggu adalah jeda singkat untuk sekadar mengambil napas sebelum ditenggelamkan lagi.
Konsepnya mirip seperti kita menyicil kebahagiaan. "Nanti kalau sudah manajer, aku akan liburan." "Nanti kalau cicilan KPR lunas, aku akan santai." Masalahnya, garis finish itu bergerak menjauh setiap kali kita mendekat. Begitu jadi manajer, stres naik. Begitu KPR lunas, genteng bocor dan anak minta kuliah.
Kita berubah menjadi robot biologis yang cemas kalau tidak sibuk. Merasa bersalah saat diam. Padahal, kesibukan itu seringkali cuma pelarian dari kenyataan bahwa kita tidak tahu siapa diri kita di luar jabatan yang tertera di kartu nama.
Menikmati Sisa (Jika Belum Kadaluwarsa)
Lalu tibalah janji manis itu: Masa Tua.
Narasi besarnya adalah kita bekerja keras sekarang supaya bisa ongkang-ongkang kaki nanti. Tapi coba lihat data lapangan. Usia harapan hidup manusia Indonesia rata-rata 70-72 tahun. Kalau kamu pensiun di usia 60 (itu pun kalau tidak dipensiunkan paksa teknologi atau efisiensi), kamu punya waktu efektif 10 sampai 12 tahun.
Itu matematikanya tidak masuk akal. Menukar 40 tahun tenaga prima demi 10 tahun sisa tenaga sisa?
Itu pun dengan asumsi badan masih kooperatif. Realitanya, "menikmati tua" seringkali berarti "menikmati antrean BPJS" atau "menikmati menu makanan yang tidak boleh mengandung gula, garam, dan lemak". Uang tabungan pensiun yang dikumpulkan susah payah seringkali habis bukan untuk keliling dunia, tapi untuk menebus resep obat dan popok dewasa.
Belum lagi fenomena generasi sandwich yang makin terjepit. Bukannya menikmati tua, banyak lansia kita yang masih harus memikirkan nasib cucu karena anak-anak mereka pun kesulitan bertahan hidup di ekonomi yang makin brutal. Mimpi duduk di kursi goyang sambil baca koran itu kemewahan yang makin langka.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti memperlakukan hidup sebagai gladi resik. Tidak ada pementasan utama di ujung sana. Panggungnya ya sekarang ini, di tengah kemacetan, di sela deadline, di obrolan warung kopi yang tidak penting. Kalau kita terus menunda "hidup" sampai semua syarat terpenuhi, kita hanya akan mati dalam keadaan menunggu.


Posting Komentar