Langganan Premium: Cara Paling Estetik Menuju Kemiskinan Terstruktur
Jam menunjukkan pukul 02.15 pagi. Cahaya biru dari layar smartphone menampar retina matamu yang sudah memerah. Kamu belum tidur, bukan karena insomnia eksistensial, tapi karena maraton series tentang chef yang teriak-teriak di dapur. Di pojok kanan atas layar, muncul notifikasi mungil yang dingin dan tak berperasaan:
Hening sejenak. Kamu menghela napas, lalu-ini bagian paling ajaibnya-kamu tersenyum. Kamu merasa lega. Kenapa? Karena setidaknya, kemiskinanmu tidak disela oleh iklan binary option atau obat peninggi badan. Kamu miskin, tapi miskinmu high definition. Miskinmu punya bitrate audio 320kbps.
Selamat datang di era di mana status sosial tidak lagi ditentukan oleh mobil apa yang kamu parkir di garasi, tapi oleh seberapa sedikit iklan yang harus kamu tonton dalam sehari.
Ilusi Kemewahan 'Fana' Produk Digital
Mari jujur-jujuran sebentar. Ada kepuasan aneh saat kita menekan tombol "Upgrade to Premium". Rasanya seperti naik kasta. Di saat itu, kita bukan lagi sekadar pengguna internet jelata yang harus menunggu 5 detik untuk menekan "Skip Ad"; kita adalah patron, kita adalah bangsawan digital.
Secara biologis, ini terasa seperti mutualisme. Hubungan yang saling menguntungkan. Kamu memberi mereka uang (yang sebenarnya kamu butuhkan untuk dana darurat), dan mereka memberimu dopamin instan. Kamu merasa seperti sedang merawat taman digitalmu sendiri. "Ah, cuma 50 ribu sebulan," pikirmu saat langganan aplikasi meditasi yang-mari kita jujur-cuma kamu buka sekali pas lagi putus cinta. "Cuma seharga dua kopi," katamu saat daftar cloud storage 2TB karena males hapus foto mantan.
Tanpa sadar, kamu merasa sedang menyiram tanaman-tanaman kecil ini agar tumbuh subur. Kamu merasa memegang kendali. It feels organic. Rasanya natural sekali, seperti bernapas. Kamu merasa hidupmu lebih teratur, lebih curated, dan tentu saja, lebih estetik. Tapi, hei, tunggu dulu...
Parasit yang Menyamar Jadi Anggrek
Tarik rem tanganmu, kawan. Mari kita bedah "taman indah" ini dengan kacamata biologi yang lebih sadis.
Apa yang kamu anggap sebagai simbiosis mutualisme sebenarnya lebih mirip serangan Invasif Spesies di ekosistem dompetmu. Faktanya begini: Riset menunjukkan bahwa manusia itu sangat buruk dalam matematika langganan. Rata-rata orang mengira mereka menghabiskan sekitar $86 (sekitar 1,3 juta rupiah) per bulan untuk langganan. Fakta lapangannya? Mereka menghabiskan $219 (3,4 juta rupiah)! Itu selisihnya bisa buat DP motor bekas, Bro.
Inilah fenomena yang disebut Subscription Creep. Langganan-langganan ini bukan tanaman hias; mereka adalah tanaman kudzu atau eceng gondok. Mereka tumbuh pelan, merambat diam-diam, menutupi permukaan, sampai akhirnya cahaya matahari (baca: gaji) nggak bisa masuk ke dasar kolam tabunganmu.
Lebih parah lagi, perusahaan-perusahaan ini menggunakan taktik yang di alam liar disebut Mimikri. Mereka menyamar. Pernah coba membatalkan langganan gym atau aplikasi berita? Susahnya minta ampun, kan? Masuknya gampang kayak terperosok ke lubang semut, keluarnya susah kayak mau kabur dari sarang laba-laba. Di dunia desain antarmuka (UI/UX), ini disebut Dark Patterns atau "Pola Gelap". Spesifiknya, teknik "Roach Motel"-kecoa bisa masuk, tapi nggak bisa keluar. Mereka memanfaatkan sifat dasar biologismu: rasa malas dan loss aversion (takut rugi).
"Yah, sayang kalau diputus sekarang, kan dulu udah bayar promo setahun." Padahal fiturnya nggak pernah kamu pakai. Selamat, kamu sedang menjadi inang bagi parasit digital yang menyedot darahmu sedikit demi sedikit, sangat halus sampai kamu nggak sadar kalau kamu lagi anemia finansial.
Ekosistem Kapitalis yang Terlanjur Kita Cintai
Lalu, apa sintesis dari kekacauan ini? Apakah aku akan menyuruhmu berhenti langganan semua layanan itu dan kembali hidup seperti manusia gua yang mendengarkan lagu lewat radio FM? Tentu tidak. Kita semua sudah terlalu nyaman di dalam panci air hangat yang pelan-pelan mendidih ini.
Realitas barunya adalah: Kita secara sadar memilih racun kita sendiri.
Langganan premium bukan lagi soal akses, tapi soal biaya sewa ketenangan jiwa. Di dunia yang bising, penuh tuntutan, dan chaos, kemampuan untuk mematikan gangguan (iklan) adalah kemewahan tertinggi. Kita rela miskin terstruktur asalkan transisi antar-episode berjalan mulus tanpa jeda.Kita menjadi seperti semut yang terinfeksi jamur Cordyceps. Kita berjalan gontai, dikendalikan oleh algoritma, menuju tempat tinggi (baca: status Gold Member), hanya untuk meledak spora-sporanya (baca: duitnya) demi menyebarkan lebih banyak langganan ke teman-teman lewat paket Family Plan.
Jadi, nikmatilah. Silakan perbarui langgananmu bulan ini. Kita memang sedang menuju kemiskinan, tapi setidaknya dalam perjalanannya kita merasakan sensasi layanan ad-free, bisa di-download offline, dan punya akses Behind The Scenes eksklusif.


Posting Komentar