Koruptor Kena Tangkap, Kok Malah Kamu yang Demam?

Ditulis oleh Wahib Irawan
Januari 20, 2026

Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah dan genangan air keruh di depan warung kopi langganan. Di layar televisi tabung yang warnanya sudah agak kehijauan, seorang pria paruh baya melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Bukan, dia bukan selebriti yang baru menang penghargaan Panasonic Gobel Awards. Dia baru saja keluar dari gedung antah-berantah dengan rompi oranye menyala, diapit dua petugas berbadan tegap.

Suasana warung kopi yang membicarakan politisi yang terjerat kasus korupsi

"Ah, ini mah jelas pesanan politik. Bapak itu orang baik, kemarin baru nyumbang semen buat masjid," celetuk bapak-bapak di sebelahku sambil menyeruput kopi yang ampasnya mulai naik ke permukaan.

Aku cuma bisa menelan ludah. Rasa pisang goreng di mulut mendadak terasa sepat. Baru saja, hari ini, berita meledak lagi. Seorang pejabat-sebut saja 'Tuan X' biar kita aman dari UU ITE-ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi yang nilainya cukup buat traktir bakso seluruh penduduk pulau Jawa. Tapi lihat kolom komentarnya di media sosial, atau dengar obrolan di warkop ini. Bukannya marah, kita malah sibuk jadi pengacara gratisan. Fenomena macam apa ini? Sejak kapan koruptor punya fanbase yang militansinya ngalahin fans K-Pop?

Sindrom "Robin Hood" Versi Lite

Mari kita bedah alasan klasik yang selalu muncul: "Dia memang korupsi, tapi kan dia sudah banyak berjasa." Kalimat ini ajaib. Seolah-olah korupsi itu cuma fitur tambahan, semacam bug kecil di aplikasi yang sebenarnya bagus.

Kita ini punya standar moral yang aneh bin ajaib. Kalau ada maling ayam digebukin massa sampai babak belur, kita tepuk tangan dan merasa keadilan ditegakkan. Tapi begitu ada maling uang negara triliunan rupiah yang uangnya diambil dari pajak kita-uang yang harusnya jadi jalan mulus, obat di puskesmas, atau sekolah yang atapnya nggak bocor-kita malah bilang, "Namanya juga manusia, tempatnya khilaf."

Khilaf kok terencana dan sistematis? Itu bukan khilaf, itu karier. Logika "maling budiman" ini bahaya banget. Kita seakan rela dirampok asalkan perampoknya pernah senyum ramah dan ngasih kita permen. Padahal permen itu dibeli pakai uang sisa rampokan rumah kita sendiri.

Jurus Mabuk: "Ini Kriminalisasi!"

Setiap kali ada tokoh idola diciduk, narasi yang muncul bukan "Waduh, jahat banget dia," melainkan "Wah, ini pasti ada yang nggak suka sama dia." Teori konspirasi langsung laris manis bak kacang goreng.

Tiba-tiba semua orang jadi analis politik dadakan. Katanya ini manuver buat jegal di tahun politik lah, pesanan oligarki lah, atau dendam masa lalu. Padahal buktinya sudah digelar: aliran dana mencurigakan, tas mewah numpuk, sampai deposito yang nol-nya bikin pusing. Tapi bagi pemuja setia, bukti itu cuma "rekayasa".

Ini level sarkasme tertinggi yang pernah ada di muka bumi: Kita lebih percaya fantasi bahwa idola kita adalah nabi yang didzalimi, daripada menerima fakta bahwa dia hanyalah maling berdasi yang kebetulan pandai merangkai kata. Kita rela pasang badan di media sosial, ribut sama teman, bahkan putus silaturahmi, cuma buat membela orang yang kalau ketemu kita di jalan pun belum tentu mau nurunin kaca mobilnya.

Rompi Oranye adalah "New Black"

Ilustrasi masyarakat yang fanatik terhadap politisi

Entah sejak kapan, status tersangka korupsi itu nggak lagi memalukan. Dulu, orang kalau ketahuan nyuri itu nunduk, tutup muka pakai jaket. Sekarang? Full senyum, Bos!

Lambaian tangan mereka ke kamera itu lho, kayak lagi meet and greet. Dan respon kita? Kita menyambutnya dengan doa-doa manis di kolom komentar. "Semoga bapak tabah," "Tuhan tidak tidur," dan sejenisnya. Memang Tuhan tidak tidur, makanya Dia biarkan kelakuan idola kamu terbongkar.

Sikap kita yang terlalu pemaaf dan memuja ini bikin korupsi di negeri ini nggak ada habisnya. Buat apa takut korupsi kalau sanksi sosialnya nol? Keluar penjara nanti, masih bisa jadi komisaris, masih bisa bikin podcast motivasi, dan masih akan ada ribuan orang yang minta foto bareng. Kita sudah menormalisasi kejahatan kerah putih jadi sekadar "cobaan hidup".

Sudahlah. Berhenti jadi "bucin" sama politisi. Mereka itu digaji buat kerja, bukan buat disembah. Kalau mereka maling, ya marah dong. Masak uang dapur kamu diambil, kamu malah bikinin teh manis buat malingnya?

Kecuali kalau memang cita-cita terbesar kamu adalah jadi korban yang bahagia. Kalau itu sih, lain cerita.

Posting Komentar