Spoiler Alert: Masa Depan Nggak Peduli Sama Rencanamu

Ditulis oleh Wahib Irawan
Desember 21, 2025
Overthinking seringkali membunuh manusia lebih cepat

Mari kita sepakati satu hal: otak manusia itu kadang bertingkah seperti manajer mikro yang menyebalkan. Tipe manajer yang jam 11 malam nge-chat, "Eh, file yang belum ada datanya itu gimana progresnya?" padahal deadline-nya masih tahun depan.

Kamu tahu rasanya. Itu bukan perasaan takut yang heroik ala film aksi. Itu perasaan mulas yang spesifik, mirip seperti saat kamu sadar baru saja salah kirim stiker tidak senonoh ke grup keluarga, atau sensasi dingin di perut saat mendengar bunyi token listrik yang sekarat di jam 3 pagi. Kita menyebutnya "mengkhawatirkan masa depan". Psikolog menyebutnya buang-buang waktu yang elit.

Glitch Bernama "Anticipatory Anxiety"

Di tahun 2024 dan 2025 ini, tren kecemasan kita sudah naik kelas. Kita tidak lagi cuma takut miskin, kita takut digantikan oleh algoritma yang bahkan tidak punya bentuk fisik. Tapi inilah plot twist-nya: otak kita sebenarnya bodoh dalam membedakan "ancaman nyata" dan "ancaman imajiner".

Ada istilah keren namanya Anticipatory Anxiety. Ini adalah kondisi di mana otakmu memproses ketidakpastian persis seperti rasa sakit fisik. Jadi, saat kamu bengong di KRL memikirkan "Apakah 5 tahun lagi gue masih relevan?", otakmu meresponsnya sama seperti kalau kakimu keinjak orang pakai sepatu boots.

Kita terjebak dalam simulasi penderitaan. Kita menderita dua kali: sekali saat membayangkannya, dan (mungkin) sekali lagi saat hal itu benar-benar terjadi. Tapi lucunya, riset menunjukkan sebagian besar hal yang kita takutkan itu probabilitas kejadiannya lebih kecil daripada kemungkinan kamu menang giveaway influencer.

Alergi Ketidakpastian (Mental Gluten)

Pernah dengar Intolerance of Uncertainty? Anggap saja ini seperti orang yang alergi gluten, tapi versinya adalah "alergi hal yang belum jelas".

Orang dengan level toleransi rendah terhadap ketidakpastian akan mencoba "memperbaiki" masa depan dengan cara over-planning. Kamu membuat spreadsheet rencana hidup 10 tahun, menata karir A sampai Z, seolah-olah hidup ini adalah proyek konstruksi yang bisa dikendalikan kontraktor.

Kenyataannya? Hidup itu lebih mirip bau durian di ruang ber-AC: tidak terduga, intens, dan merusak semua rencana yang sudah rapi. Semakin keras kamu mencoba memastikan segalanya, semakin rapuh mentalmu saat satu hal kecil meleset (misalnya: pandemi global, krisis ekonomi, atau sekadar putus cinta di hari Selasa).

Paradoks Perencanaan di Era AI Hype

Jujur saja, mencoba memprediksi masa depan di era sekarang itu komedi tragis. Dua tahun lalu kita semua disuruh belajar coding, sekarang AI bisa menulis kode lebih cepat dari kita menyeduh kopi instan.

Ironisnya, data menunjukkan bahwa generasi yang paling obsesif dengan "self-tracking" (pakai smartwatch untuk monitor stres, tidur, detak jantung) justru adalah generasi yang paling cemas. Kenapa? Karena kita mengubah hidup menjadi data yang harus dioptimasi. Kita lupa caranya sekadar ada.

Berhenti mengkhawatirkan masa depan bukan berarti jadi apatis dan rebahan seharian menunggu nasib. Ini soal efisiensi energi kognitif. Khawatir itu seperti menggoyangkan kursi goyang; memang ada pergerakan, tapi kamu tidak kemana-mana.

Jadi, Apa Rencananya?

Life happens.

Rencananya adalah tidak punya rencana yang kaku. Fokus pada apa yang ada di depan hidungmu sekarang.

Kalau kamu lapar, makan. Kalau ada kerjaan, selesaikan. Kalau AC bocor, panggil tukang. Jangan mencoba memperbaiki kebocoran tahun 2027 hari ini. Itu masalahnya "Kamu Masa Depan". Biarkan dia yang pusing, dia (semoga) lebih bijak dan lebih mapan dari kamu yang sekarang.

Masa depan itu tidak dibentuk oleh seberapa keras kamu cemas di malam hari, tapi oleh apa yang kamu lakukan saat matahari terbit. Sisanya? Itu urusan semesta, atau algoritma, terserahlah.

Posting Komentar