Selamat Datang di Klub Kepala Tiga, Arena Bertarung Saldo Bank Melawan Kulit yang Mulai Keriput

Ditulis oleh Wahib Irawan
Desember 29, 2025
Ilustrasi: HP penuh dengan notifikasi tagihan

Sabtu malam kemarin, aku menemukan sebuah undangan pernikahan terselip di bawah pintu kosan. Kertasnya tebal, ada aroma melati buatan yang menyengat, dan tinta emasnya berkilau mengejek di bawah lampu neon lorong yang berkedip-kedip. Dulu, benda semacam ini adalah tiket makan gratis dan ajang pamer baju batik baru. Sekarang, bagi kita yang sudah menginjak atau melewati gerbang usia 30, undangan pernikahan terasa seperti surat panggilan pengadilan.

Ada teror halus yang merayap di punggung setiap kali kita melihat teman seangkatan berdiri di pelaminan. Bukan karena iri melihat kebahagiaan orang lain-kita tidak sejahat itu-tapi karena pertanyaan "Kapan nyusul?" kini terdengar seperti vonis hakim ketimbang doa basa-basi.

Di sinilah kita sekarang. Terjebak dalam sebuah fenomena sosial yang lebih rumit dari sekadar urusan hati. Kita sedang berada di tengah kemacetan jalan raya kehidupan di mana laki-laki mogok karena kehabisan bensin bernama 'uang', dan perempuan panik karena lampu lalu lintas mereka sebentar lagi berubah merah permanen.

Mencintai Itu Gratis, Tapi Resepsinya Bayar Pakai Ginjal

Mari kita bicara soal kaum adam dulu. Ada narasi konyol yang bilang kalau laki-laki umur 30-an yang belum menikah itu "belum dewasa" atau "takut komitmen". Omong kosong. Kita tidak takut berkomitmen pada satu wanita seumur hidup. Kita cuma takut mengajak anak orang menderita di kontrakan petak tiga yang atapnya bocor tiap kali hujan turun.

Standar kelayakan hidup di tahun 2024-2025 ini sudah tidak masuk akal. Harga rumah merangkak naik seperti roket SpaceX, sementara gaji kita merayap lambat seperti siput yang kena stroke. Laki-laki diajarkan sejak kecil bahwa harga diri mereka terletak pada kemampuan menjadi penyedia. Provider. Sang pemburu yang pulang membawa daging rusa.

Masalahnya, hutan tempat kita berburu sekarang sudah gundul.

Kita hidup di masa di mana biaya sewa gedung resepsi setara dengan gaji dua tahun penuh tanpa makan. Laki-laki umur 30-an bukannya tidak mau menikah, kamu tahu itu. Mereka sedang sibuk menghitung kalkulasi matematika yang hasilnya selalu minus. Membayangkan harus membiayai katering, sewa rumah, cicilan motor, sampai popok bayi nanti, rasanya seperti disuruh menjinakkan bom tanpa panduan manual. Ketakutan finansial ini bukan paranoid, ini realitas brutal bagi mereka yang gajinya habis cuma buat bayar paylater dan menyambung hidup sampai tanggal 25.

Lomba Lari Melawan Rahim Sendiri dan Mulut Tetangga

Di sisi lain gelanggang, situasinya tak kalah mencekam, tapi dengan jenis horor yang berbeda. Bagi perempuan, usia 30 adalah sirene bahaya yang meraung-raung. Masyarakat kita punya stkamur gkamu yang menjijikkan: Laki-laki umur 35 yang belum menikah disebut "matang" dan "bujang lapuk incaran", sementara perempuan umur 30 yang belum menikah dilabeli "barang tidak laku" atau "kadaluwarsa".

Tekanan ini bukan cuma soal biologi, meski dokter kandungan memang rajin mengingatkan soal kualitas sel telur yang menurun drastis. Tekanan terberat justru datang dari tatapan iba tante-tante saat arisan keluarga. Seolah-olah pencapaian karier, gelar master, atau kemampuan mandiri seorang perempuan langsung hangus tak bersisa hanya karena belum ada cincin melingkar di jari manis.

Pertanyaan sidang pengadilan di grup whatsapp keluarga

Perempuan dipaksa berlari sprint. Mereka harus cepat-cepat menemukan pasangan sebelum "nilai pasar" mereka dianggap jatuh. Padahal, mencari pasangan yang decent di usia segini susahnya minta ampun. Stok laki-laki berkualitas rasanya makin menipis-antara sudah diambil orang, atau masih sibuk bertarung dengan masalah finansial di poin sebelumnya tadi.

Dua Garis Merah yang Kita Takuti Bukan Cuma di Test Pack

Inilah ironi tragis dari generasi kita. Laki-laki menunggu mapan (yang entah kapan datangnya), sementara perempuan menunggu laki-laki siap (yang entah sampai kapan harus ditunggu). Kita seperti dua kereta api yang melaju di rel berbeda; satu kereta kehabisan bahan bakar, satu kereta lagi dikejar waktu sampai mesinnya panas.

Kita menciptakan sebuah generasi yang ragu-ragu. Ketakutan akan kemiskinan bertemu dengan ketakutan akan kesepian. Kita menjadi terlalu rasional untuk jatuh cinta secara membabi buta seperti orang tua kita dulu yang modal "Bismillah" bisa punya rumah dan tanah. Sekarang? Modal Bismillah saja tidak cukup kalau BI Checking merah.

Mungkin masalahnya bukan pada kita. Bukan pada laki-laki yang dianggap pengecut atau perempuan yang dianggap terlalu pemilih. Masalahnya ada pada sistem yang membuat pernikahan terasa seperti kemewahan, bukan tahapan hidup yang wajar. Kita dipaksa bertarung di arena di mana aturan mainnya terus berubah dan wasitnya-biaya hidup dan norma sosial-selalu memihak lawan.

Jadi, kalau nanti malam minggu kamu duduk sendirian di kedai kopi, melihat pasangan lain bertengkar soal mau makan di mana, jangan terlalu sedih. Setidaknya dompetmu aman dan kamu tidak perlu pusing memikirkan biaya gedung. Nikmati saja kopimu yang mulai dingin itu, sambil menertawakan nasib kita yang terjebak di ruang tunggu kedewasaan yang pengap ini.

Posting Komentar