WFC: Sebuah Ritual Menyewa Meja dan Pura-pura Sibuk di Bawah Lampu Warm White

Ditulis oleh Wahib Irawan
Desember 23, 2025
Stop romantisasi work from cafe

Suara ketukan portafilter ke wadah ampas kopi itu terdengar seperti palu hakim yang memvonis nasib dompet kita hari ini. Bunyinya nyaring, kasar, dan sedikit mengintimidasi. Kita masuk dengan mata yang memindai seluruh ruangan bukan untuk mencari teman, melainkan mencari harta karun paling berharga di abad ke-21: lubang colokan listrik yang menganggur.

Dulu, orang pergi ke kedai untuk bicara. Bertukar gagasan atau sekadar gosip tetangga sebelah yang beli mobil baru. Sekarang, kedai kopi lebih mirip perpustakaan berbayar yang memutar lagu indie-folk dengan volume sedikit di atas ambang batas kewajaran. Kita duduk berjam-jam, membungkuk di depan layar yang menyala, seolah-olah sedang meretas sistem keamanan Pentagon, padahal cuma sedang memindahkan satu paragraf dari atas ke bawah di dokumen skripsi atau deck presentasi yang tak kunjung kelar.

Ini bukan sekadar bekerja. Ini adalah pertunjukan teater tunggal di mana kita menjadi aktor utamanya.

Membayar Upeti untuk Sepetak Ubin dan Ilusi Produktivitas

Mari kita jujur sebentar. Saat kita membayar lima puluh ribu rupiah untuk segelas iced latte yang es batunya lebih banyak daripada susunya, kita tidak sedang membeli minuman. Kita sedang membayar sewa. Kita menyewa atmosfer. Kita menyewa perasaan bahwa kita adalah bagian dari masyarakat urban yang dinamis, sibuk, dan punya tujuan hidup yang jelas.

Padahal di rumah, kasur melambai-lambai dan kulkas terus menggoda. Di kafe, kita dipaksa duduk tegak karena malu dilihat orang kalau ketiduran dengan mulut terbuka. Tekanan sosial inilah komoditas utamanya. Kita butuh mata orang asing untuk menghakimi kita secara diam-diam agar kita tetap terjaga dan mengetik.

Fenomena ini lucu kalau dipikir-pikir. Kita kabur dari kantor karena bosan dengan kubikel yang kaku, tapi kemudian lari ke tempat di mana kita harus berebut kursi kayu keras yang bikin pinggang menjerit setelah dua jam. Kita menjadi nomaden digital yang sebenarnya cuma pindah-pindah tempat duduk demi mencari sinyal yang bar-nya penuh.

Konser Tunggal Blender di Tengah Deadline

Katanya kerja di kafe itu meningkatkan fokus. Omong kosong macam apa ini?

Coba perhatikan sekelilingmu. Di meja sebelah kiri, ada sekelompok ibu-ibu arisan yang tawanya bisa memecahkan gelas kaca. Di meja sebelah kanan, ada pasangan yang sedang bertengkar dengan bisik-bisik yang justru terdengar lebih tajam daripada teriakan. Dan tepat saat ide brilian itu hampir muncul di kepalamu, mesin blender di bar menyala dengan kekuatan setara mesin jet pesawat tempur, menggilas es batu sekaligus menggilas konsentrasimu.

Lalu apa yang kita lakukan? Kita memakai headphone mahal dengan fitur noise-canceling. Kita pergi ke tempat umum, membayar mahal untuk berada di keramaian, lalu memasang alat di telinga untuk memblokir keramaian tersebut agar terasa hening seperti di kamar sendiri. Logika macam apa yang sedang kita mainkan di sini? Kita seperti orang yang pergi ke pantai tapi memakai jas hujan karena takut basah.

Cosplay CEO di Panggung Kayu Jati

Ada kepuasan narsisistik saat membuka laptop di tempat umum. Logo buah tergigit atau alien menyala itu adalah simbol status. Itu adalah kode morse visual yang berteriak ke seluruh ruangan: "Lihat aku, aku punya pekerjaan penting yang bisa dikerjakan di mana saja."

Kita menata meja dengan presisi militer. Laptop di tengah, ponsel di sisi kanan, minuman di sisi kiri, dan buku catatan Moleskine (yang jarang ditulis) di sudut atas. Semuanya diatur bukan untuk efisiensi, tapi untuk estetika. Siapa tahu ada orang lewat yang naksir, atau setidaknya kagum melihat betapa aesthetic-nya kekacauan hidup kita.

Namun seringkali, yang terjadi di layar laptop hanyalah perpindahan tab antara pekerjaan, media sosial, dan toko oren. Kita merasa sibuk karena tangan kita bergerak dan mata kita menatap layar. Tapi produktivitas itu semu. Kita hanya sedang melakukan simulasi bekerja. Kita adalah aktor yang sedang mendalami peran sebagai "pekerja kreatif sukses" di hadapan penonton yang sama sekali tidak peduli karena mereka juga sedang sibuk dengan peran mereka masing-masing.

Mungkin besok kita akan kembali lagi ke sini. Mengeluh soal Wi-Fi yang lemot, menggerutu soal harga kopi yang naik, dan memaki orang yang menyerobot colokan terakhir. Kita akan tetap datang, bukan karena kopinya enak, tapi karena di rumah, kesepian terasa jauh lebih nyata dan menakutkan daripada suara blender itu.

Posting Komentar