Resolusi Tahun Baru Adalah Dongeng Sebelum Tidur Buat Orang Dewasa
Matahari baru saja terbit di tanggal 1 Januari, tapi kalau kamu buka aplikasi Strava atau menengok parkiran gym 24 jam di kotamu, suasananya sudah mirip kota hantu di film koboi. Hening. Kosong. Hanya ada suara angin fiktif yang meniup debu di atas treadmill yang masih bau plastik baru.
Kita semua tahu rasanya. Perasaan hangat dan menggelitik di perut pada tanggal 31 Desember, saat kamu menatap langit-langit kamar dan membisikkan janji manis pada diri sendiri: "Tahun ini, gue bakal beda." Itu bukan tekad. Itu adalah dongeng.
Sama seperti kita membacakan cerita tentang kancil yang cerdik supaya anak-anak bisa tidur tenang, kita membisikkan resolusi tahun baru supaya kita bisa tidur tanpa dihantui oleh kenyataan bahwa kita adalah manusia yang stagnan. Kita butuh narasi heroik itu untuk meninabobokan kecemasan eksistensial kita, setidaknya sampai minggu kedua Januari.
Fenomena "Quitter's Day": Jadwal Resmi Menyerah
Internet dan data tidak punya perasaan, mereka tidak peduli dengan "vibes" positifmu. Strava, aplikasi pelacak kebugaran yang isinya orang-orang pamer rute lari, punya satu hari keramat yang mereka sebut "Quitter's Day". Menurut data jutaan pengguna, hari Jumat kedua di bulan Januari adalah momen di mana grafik aktivitas terjun bebas.
Tahun ini, mungkin jatuhnya sekitar tanggal 12 atau 19 Januari. Di tanggal ini, motivasi kolektif umat manusia menguap lebih cepat daripada alkohol di botol parfum yang tutupnya hilang.
Ini bukan sekadar kebetulan statistik. Ini adalah bukti biologis bahwa euforia "New Year, New Me" memiliki masa kedaluwarsa yang lebih pendek dari susu murni yang ditaruh di suhu ruang. Resolusi itu tidak dirancang untuk bertahan; ia dirancang untuk terasa enak saat diucapkan. Sensasinya mirip saat kamu memasukkan barang ke keranjang belanja online tanpa pernah berniat membayarnya. Dopaminnya cair duluan, kerjanya belakangan. Atau tidak sama sekali.
Model Bisnis yang Memanen Kegagalan
Coba pikirkan dengan logika kapitalis yang dingin. Kalau semua orang yang mendaftar member gym di bulan Januari benar-benar datang dan latihan rutin sepanjang tahun, gym itu akan bangkrut dalam sebulan. Alat-alat akan rusak, antrean bench press akan memanjang sampai ke pintu keluar, dan AC akan menyerah mendinginkan ratusan tubuh yang berkeringat.
Industri kebugaran, bahasa kasarnya, "mempertaruhkan uang" bahwa kamu akan gagal. Mereka menjual mimpi, bukan kapasitas ruangan.
Uang pendaftaran yang kamu gesek di kartu kredit itu sebenarnya bukan biaya sewa alat. Itu adalah "pajak rasa bersalah". Kamu membayar ratusan ribu per bulan hanya untuk hak mengatakan, "Oh iya, gue member di sana," saat nongkrong dengan teman-teman, meskipun satu-satunya latihan kardio yang kamu lakukan adalah berjalan cepat dari parkiran kantor karena telat fingerprint.
Productivity Cosplay dan Candu Perencanaan
Masalah utamanya ada di otak kita yang gampang tertipu. Psikologi modern menyebutkan bahwa otak manusia seringkali kesulitan membedakan antara merencanakan sebuah kesuksesan dengan meraih kesuksesan itu sendiri.
Saat kamu membeli agenda mahal berbahan kulit sintesis, membeli set pulpen warna-warni, dan menuliskan "Lari 5KM setiap pagi" dengan tulisan tangan yang rapi, otakmu melepaskan dopamin. Rasanya enak sekali. Kamu merasa produktif. Kamu merasa sudah menjadi versi dirimu yang lebih baik, padahal kamu baru saja melakukan kegiatan yang saya sebut sebagai Productivity Cosplay. Kamu berpura-pura menjadi orang yang teratur, padahal kamu cuma orang yang suka beli alat tulis.
Resolusi tahun baru adalah bentuk penundaan yang paling canggih. Dengan mengatakan "Aku akan mulai tanggal 1 Januari," kamu memberi izin pada dirimu sendiri untuk menjadi sampah selama bulan Desember. Itu adalah mekanisme pertahanan ego, bukan strategi perubahan hidup.
Jadi, Harus Bagaimana?
Apakah ini berarti kita harus berhenti berharap? Tidak juga. Tapi berhentilah memperlakukan tanggal 1 Januari sebagai portal magis yang akan mereset karaktermu menjadi level 1 lagi. Kamu bukan karakter game RPG. Kamu adalah akumulasi dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang membosankan.
Berhenti membuat resolusi yang terdengar heroik di status WhatsApp. Mulailah melakukan hal-hal yang sangat kecil dan tidak seksi sama sekali. Jangan berjanji lari maraton, berjanjilah untuk memakai sepatu lari selama 5 menit setiap sore. Jangan berjanji membaca 50 buku setahun, berjanjilah membaca satu paragraf sebelum tidur daripada scrolling video kucing.
Resolusi tahun baru adalah dongeng pengantar tidur yang manis. Tapi ingat, pada akhirnya kamu harus bangun. Dan saat bangun, tidak ada peri yang akan mengubah labu menjadi kereta kencana. Hanya ada kamu, alarm yang berisik, dan pilihan untuk bangun atau mematikan tombol snooze sekali lagi.
Posting Komentar