Punggung dan Kerja Remote: Sebuah Teori Kausalitas

Ditulis oleh Wahib Irawan
Desember 14, 2025

Ingat nggak waktu awal-awal pandemi? Kita semua sorak-sorai. Akhirnya, mimpi buruk macet-macetan di Tendean atau desak-desakan di KRL Manggarai jam 7 pagi musnah sudah. Kita membayangkan hidup ideal: kerja santai pakai celana kolor, bangun lima menit sebelum daily standup, dan saldo GoPay aman karena nggak jajan kopi mahal di SCBD.

Realitanya? Omong kosong.

Dua tahun lebih berlalu, dan sekarang kita sadar kalau WFH (Work From Home) atau WFA (Work From Anywhere) itu jebakan batman yang dibungkus rapi dengan pita fleksibilitas. Batas antara "jam kerja" dan "jam istirahat" sudah setipis dompet di tanggal tua. Kamar tidur yang harusnya jadi tempat rebahan sakral, sekarang berubah jadi ruang sidang dadakan tiap kali bos ngajak Zoom urgent.

Ilusi Produktivitas dan "Utang Digital"

Coba jujur, berapa kali kamu balas chat WhatsApp kerjaan di atas jam 8 malam? Atau ngecek email sambil boker?

Microsoft pernah merilis data lewat Work Trend Index yang bikin geleng-geleng. Ternyata, 54% pekerja merasa kelelahan (overworked) dan 39% merasa bener-bener habis bensin (exhausted). Kenapa? Karena "utang digital". Kita kebanjiran data, email, chat, dan notifikasi yang menuntut respons instan.

Dulu, kalau sudah tap out dari kantor, ya sudah. Urusan kantor tinggal di kantor. Sekarang, kantor itu ada di saku celana kita, bunyi "ting-tung" tiap lima menit. Rasanya kayak bawa beban kerja kemana-mana, bahkan saat lagi nongkrong di angkringan.

Faktanya, bekerja dari rumah seringkali bikin jam kerja jadi molor. Riset dari NordVPN menunjukkan rata-rata pekerja remote nambahin jam kerja sampai 2,5 jam per hari. Itu bukan dedikasi, Sob. Itu eksploitasi diri sendiri atas nama "nggak enak kalau nggak bales".

Badan Kita Nggak Dirancang Buat Jadi Patung

Masalah kedua adalah fisik yang makin jompo. Dulu seburuk-buruknya macet, kita masih jalan kaki dari halte ke kantor. Masih naik turun tangga buat ambil makan siang. Ada geraknya dikit.

Sekarang? Perjalanan terjauh kita cuma dari kasur ke meja kerja, terus ke kamar mandi. Paling banter ke depan pagar ambil paket Shopee.

Gaya hidup sedentary (kurang gerak) ini bom waktu. WHO sudah wanti-wanti, gaya hidup malas gerak ini bisa membunuh lebih cepat daripada rokok di beberapa kasus. Sakit pinggang, leher kaku, mata kering—itu bukan tanda penuaan dini, itu tanda tubuhmu protes keras. Kita jadi generasi encok sebelum waktunya. 

Terus, Gimana Biar Nggak Gila?

Oke, kita nggak bisa serta-merta resign dan hidup dari fotosintesis. Tagihan Paylater dan cicilan KPR tetap harus dibayar. Tapi, kita bisa pasang rem tangan biar nggak bablas ke jurang burnout.

1. Bikin "Fake Commute" Ini kedengarannya konyol, tapi manjur. Sebelum mulai kerja, "berangkatlah" dulu. Bukan naik ojol, tapi jalan kaki keliling komplek 15 menit, atau sekadar mandi dan ganti baju rapi. Otak kita butuh sinyal transisi dari "Mode Rebahan" ke "Mode Cari Duit". Jangan kerja pakai baju tidur. Itu menghina martabat kasur.

2. Matikan Notifikasi (Serius, Matikan) Dunia nggak akan kiamat kalau kamu balas chat bos 30 menit kemudian. Kecuali kamu kerja jadi admin pemadam kebakaran atau dokter UGD, biasakan mode Do Not Disturb saat butuh fokus atau saat jam kerja sudah habis. Kalau kamu selalu available 24/7, orang akan menganggap itu standar kerjamu. Jangan bikin standar yang nyekek leher sendiri.

3. Aturan 20-20-20 Tiap 20 menit, lihat objek sejauh 20 kaki (6 meteran lah), selama 20 detik. Mata kita bukan lensa kamera yang bisa autofokus terus-terusan tanpa rusak. Sayangi mata, biaya LASIK itu mahal, BPJS kadang ribet.

4. Cari Hobi Non-Layar Kelar kerja natap laptop, istirahatnya jangan scroll TikTok atau main Mobile Legends. Itu sama aja mindahin penyiksaan dari layar gede ke layar kecil. Masak, nyiram tanaman, main sama kucing, atau bengong liatin langit. Apa aja yang nggak melibatkan pixel.

Penutup: Kerja Itu Ibadah, Tapi Jangan Jadi Tumbal

Kerja remote itu privilese, kita akui itu. Banyak orang di luar sana yang harus panas-panasan di jalan demi UMR. Tapi bukan berarti kita harus menormalisasi kerja rodi digital.

Kesehatan mental dan fisik itu aset investasi jangka panjang, lebih penting daripada portofolio saham gorengan yang kamu hold itu. Kalau kamu ambruk, perusahaan tinggal buka lowongan di LinkedIn, dan dalam seminggu kursimu sudah ada yang isi. Tapi kalau punggungmu rusak? Nggak ada suku cadangnya di Tokopedia.

Jadi, kelar baca tulisan ini, tutup laptopmu. Keluar rumah, cari angin, beli gorengan. Dunia nyata lebih indah daripada wallpaper Windows.

Posting Komentar