Minggu Malam Adalah Scam Terbesar dalam Sejarah Liburan Kita

Ditulis oleh Wahib Irawan
Desember 15, 2025
Kalender mendadak horror ketika hari sudah memasuki Minggu malam

Jam tujuh malam di hari Minggu itu punya aura mistis yang aneh. Secara teknis, ini masih bagian dari akhir pekan. Hak kita sepenuhnya. Tapi coba cek isi kepala kalian sekarang. Pasti sudah tidak ada di sofa ruang tengah atau di kasur empuk itu. Pikiran kita sudah melompat ke gerbong kereta jam enam pagi, antrean lift kantor, atau notifikasi grup WhatsApp yang mulai "pemanasan" membahas to-do list.

Kita ini aneh. Kita menghabiskan sisa jam libur justru buat menyiksa diri dengan simulasi stres hari Senin. Padahal, gajinya belum cair, tapi paniknya sudah dicicil duluan.

Fenomena ini saking validnya sampai punya nama ilmiah di psikologi populer: Sunday Scaries. Bukan, ini bukan karena kita lemah mental. Ini adalah respons alamiah tubuh yang menolak transisi dari mode "manusia bebas" kembali menjadi "sekrup kapitalisme". Badan kita ada di rumah, tapi jiwa kita sudah check-in di kantor.

Coba kita bedah logikanya. Kenapa Senin begitu menakutkan?

Masalahnya bukan di hari Senin-nya. Senin cuma rotasi bumi biasa. Matahari terbit dari timur, tukang bubur tetap mengaduk (atau tidak mengaduk) buburnya seperti biasa. Masalahnya ada pada ketidaksiapan kita menghadapi rutinitas yang-jujur saja-sering kali absurd.

Kita rela bangun subuh, desek-desekan di KRL atau stuck di jalan tol, cuma buat datang ke gedung tinggi, duduk di kubikel sempit, dan ngerjain laporan yang mungkin nggak akan dibaca teliti sama atasan. Kita melakukan itu semua demi membiayai gaya hidup di akhir pekan yang durasinya cuma sekejap mata.

Siklus ini kan kocak kalau dipikir-pikir, Nder.

Jam 10 malam adalah waktu dimulainya pikiran yang berisik

Tapi ya, mau sekeras apa pun kita menggerutu, besok pagi alarm itu tetap akan bunyi. Kita tetap akan mematikan paksa mimpi indah, menyeret kaki ke kamar mandi, dan menyeduh kopi instan biar mata melek.

Bukan karena kita cinta mati sama pekerjaan (meski ada lah satu-dua yang beruntung begitu), tapi karena tagihan tidak bisa dibayar pakai keluhan di Twitter. Cicilan rumah, biaya subscription streaming film yang jarang ditonton, sampai dana darurat buat kucing peliharaan; semuanya butuh validasi kehadiran kita di hari Senin.

Jadi, strategi terbaik buat malam ini bukan melawan rasa cemas itu. Semakin dilawan, semakin kita nggak bisa tidur. Mending kita akuin saja.

"Oke, besok Senin. Besok bakal capek. Besok bakal ada drama."

Terima saja faktanya. Kalau kita sudah berdamai dengan kenyataan bahwa besok harus ngadepin dunia lagi, setidaknya kita bisa tidur lebih nyenyak malam ini. Jangan biarkan Minggu malam yang berharga ini terbuang sia-sia cuma buat mikirin kemeja apa yang harus dipakai besok. Itu urusan diri kamu di masa depan (baca: besok pagi).

Tugas kamu sekarang cuma satu: abisin sisa jam libur ini dengan melakukan hal paling tidak produktif sedunia. Rebahan, bengong, atau nonton ulang sitkom yang dialognya sudah kamu hafal di luar kepala.

Simpan paniknya buat besok jam 8 pagi, Sob. Sekarang waktunya pura-pura kalau besok masih tanggal merah.

Posting Komentar