Masalah Kita Nggak Butuh Solusi, Cuma Butuh Validasi

Ditulis oleh Wahib Irawan
Desember 16, 2025

Mari kita jujur sebentar. Seberapa sering kamu curhat ke teman, pasangan, atau bahkan ke akun menfess anonim di Twitter cuma buat denger saran teknis?

Jawabannya pasti jarang. Atau malah nggak pernah sama sekali.

Kita ini spesies yang aneh. Kita sering bilang lagi "cari jalan keluar", padahal dalam hati kecil yang paling dalam, kita cuma lagi ngarepin orang lain mengangguk dan bilang, "Iya ya, kamu bener banget, dunia emang jahat sama kamu."

Itulah validasi. Mata uang paling berharga di era digital yang inflasinya nggak pernah turun.

Jebakan "Minta Saran"

Coba perhatikan pola interaksi kita di media sosial. Ada orang nulis utas panjang lebar soal pasangannya yang red flag, gajinya yang numpang lewat, atau atasan yang hobi ngerevisi kerjaan lima menit sebelum pulang.

Di akhir cerita, biasanya ada pertanyaan basa-basi: "Menurut kalian aku harus gimana?"

Tapi, coba perhatikan kolom komentarnya. Kalau ada satu orang yang benar-benar ngasih solusi logis, taktis, dan to the point (misalnya: "Putusin pacarmu," atau "Resign sekarang, ini draf suratnya"), si pembuat status biasanya malah defensif. Dia bakal ngejelasin seribu satu alasan kenapa saran itu nggak bisa dipakai.

Kenapa? Karena dia nggak butuh solusi, Nder. Dia cuma butuh kamu ikut marah. Dia butuh kamu ikut memaki pacarnya atau bosnya. Dia butuh validasi bahwa penderitaannya itu nyata dan dia adalah protagonis yang terzalimi dalam sinetron kehidupannya sendiri.

Ini bukan soal mencari jawaban. Ini soal mencari teman sependeritaan.

Validasi sebagai Obat Penenang

Secara psikologis, divalidasi itu enak. Rasanya kayak diselimutin pas lagi hujan deres. Ada rasa aman karena kita merasa "diterima" oleh kelompok. Masalahnya, kita jadi kecanduan.

Kita mulai ngubah narasi hidup kita biar makin layak dapat simpati. Tanpa sadar, kita jadi mendramatisir hal-hal sepele.

Kopi tumpah sedikit jadi konten soal "hari terburuk dalam hidup". Macet di jalan jadi alasan buat bikin story soal betapa kerasnya perjuangan mencari nafkah di ibukota.

Kita sibuk moles penderitaan biar estetik, biar panen react sedih. Padahal kalau dipikir pakai logika, kopi tumpah ya tinggal dilap. Macet ya emang risiko tinggal di kota besar. Tapi kalau cuma dilap dan dinikmati dalam diam, siapa yang bakal ngasih kita tepuk tangan virtual?

Lingkaran Setan di Kantor

Penyakit gila hormat validasi ini nggak cuma kejadian di media sosial. Di kantor lebih parah lagi.

Pernah ikut meeting yang isinya cuma atasan ngomong panjang lebar, terus di akhir dia nanya, "Ada masukan?"

Hening.

Semua orang tahu itu pertanyaan jebakan. Kalau kamu beneran ngasih masukan yang berlawanan, muka si bos bakal asem. Dia nggak nyari masukan buat benerin strategi perusahaan. Dia cuma nyari validasi kalau idenya itu brilian. Tugas kita sebagai bawahan cuma satu: mengangguk antusias dan bilang, "Setuju Pak, insightful banget."

Kita semua main sandiwara. Atasan butuh validasi kalau dia pemimpin visioner, bawahan butuh validasi kalau mereka karyawan penurut. Roda korporat berputar bukan karena efisiensi, tapi karena pelumas saling memuji yang sebenernya palsu.

Berhenti Bohongin Diri Sendiri

Nggak ada yang salah dengan butuh validasi. Itu manusiawi, Sob. Kita makhluk sosial, kita butuh tahu kalau perasaan kita itu wajar.

Yang salah adalah ketika kita nyamar jadi pencari solusi padahal cuma mau dimanja ego-nya.

Kalau emang lagi capek dan pengen ngeluh, bilang aja: "Aku lagi capek, tolong dengerin aja, jangan ceramah." Itu lebih jantan (atau betina) daripada pura-pura nanya tapi nolak semua jawaban.

Berhenti nyari pembenaran atas setiap keputusan bodoh yang kita buat. Kadang kita emang salah. Kadang kita emang males. Kadang kita emang lebay. Dan nggak semua hal harus divalidasi orang lain biar jadi kenyataan.

Fakta tetap fakta, mau ada yang nge-like atau nggak. Tagihan listrik tetap harus dibayar, mau kamu curhat di Twitter atau nggak.

Jadi, mulai sekarang, kalau ada masalah, coba tanya ke cermin: "Aku butuh jalan keluar, atau cuma butuh tepuk tangan?"

Posting Komentar