Korupsi Itu ‘Cobaan’, Tapi Makan Babi Itu Neraka: Logika Terbalik Moralitas Kita
Ada satu pemandangan absurd yang mungkin pernah kamu lihat. Bayangkan sebuah meja bundar di kelab malam Jakarta Selatan atau mungkin tongkrongan remang-remang di pinggiran kota. Botol-botol Amer (Anggur Merah) atau cocktail mahal berjejer rapi. Asap rokok mengepul, obrolan tentang "proyekan" yang digelembungkan atau affair tipis-tipis mengalir lancar.
Tapi, begitu pelayan datang membawa piring berisi nachos atau sate, mendadak satu orang di meja itu-yang baru saja menenggak gelas ketiganya-mengangkat tangan dengan waspada.
"Eh, sebentar. Ini dagingnya aman, kan? Nggak ada babinya, kan?"
Hening sebentar. Lalu semua orang di meja menghela napas lega setelah pelayan mengonfirmasi bahwa itu 100% sapi. Alhamdulillah, iman kita selamat malam ini, kawan. Lanjut lagi mabuknya.
Selamat datang di Indonesia. Negeri di mana standar moral kita kadang lebih lentur daripada karet gelang bungkus nasi uduk, tapi mendadak sekeras baja kalau sudah urusan babi.
Hierarki Dosa yang Membingungkan
Entah sejak kapan kita punya konsensus tak tertulis soal peringkat dosa. Kalau diurutkan berdasarkan respons publik dan rasa bersalah personal, korupsi miliaran rupiah itu posisinya sering kali dianggap "kecelakaan". Maksiat atau selingkuh itu "khilaf manusiawi". Tapi makan babi? Itu tiket VIP ke neraka jalur ekspres.
Kita hidup di ekosistem sosial yang aneh. Seseorang bisa saja mengambil hak orang miskin lewat mark-up anggaran, menyuap petugas demi lolos tilang, atau menipu mitra bisnis tanpa kedip. Tapi orang yang sama bakal merasa sangat berdosa, mual, bahkan mau muntah kalau tahu kerupuk kulit yang dia makan ternyata jangek babi.
Kenapa bisa begitu?
Simpelnya, karena babi itu simbol. Dia adalah garis merah terakhir. Sebrengsek-brengseknya perilaku kita, selama lidah belum tersentuh lard atau minyak babi, kita merasa masih punya "sisa iman". Ini semacam mekanisme pertahanan diri psikologis.
"Gue emang nakal, Sob. Tapi gue masih punya prinsip."
Prinsip yang mana, Nder? Prinsip yang membolehkan nyolong duit rakyat asal perut tetap halal? Logika ini kalau dipikir-pikir pakai nalar sehat, jatuhnya kocak sekaligus tragis.
Ketika Agama Jadi Kosmetik
Fenomena ini makin menjadi-jadi kalau kita lihat panggung berita kriminal. Pejabat yang tertangkap tangan maling uang negara sering kali muncul di TV dengan atribut keagamaan yang tiba-tiba lengkap. Peci hitam, baju koko rapi, tasbih di tangan. Narasi yang dibangun selalu sama: "Ini cobaan", "Saya sedang diuji", atau "Doakan saya kuat".
Korupsi dibingkai sebagai "cobaan". Seolah-olah uang satu koper itu jatuh dari langit dan menimpa pangkuan mereka tanpa sengaja.
Coba bandingkan dengan respons netizen kalau ada influencer atau artis yang ketahuan makan di restoran non-halal. Kolom komentar bakal meledak. Caci maki berterbangan. "Ingat akhirat, Kak!", "Unfollow ah, ternyata kafir", "Jijik banget".
Padahal, secara dampak sosial, mana yang lebih merusak? Sepiring pork belly yang dimakan satu orang, atau tanda tangan pejabat yang bikin aspal jalan di kampungmu tipisnya kayak kulit bawang sampai bikin orang kecelakaan?
Tapi ya itu tadi. Korupsi itu abstrak. Nggak kelihatan bentuknya, nggak kerasa baunya. Sementara babi itu fisik. Ada bentuknya. Ada stempel haramnya yang diajarkan sejak TK. Kita lebih mudah membenci apa yang bisa kita lihat di piring daripada membenci kejahatan sistemik yang pelan-pelan membunuh masa depan kita.
Mabuk Lanjut, Maksiat Jalan, Babi No Way
Mari jujur-jujuran saja. Di lingkaran pertemanan kita-mungkin termasuk grup WhatsApp "alumni nakal" kalian-perilaku ini dipelihara. Kita menormalisasi kemaksiatan tertentu karena "semua orang juga begitu".
Main perempuan/laki-laki orang? "Namanya juga puber kedua."
Mabuk sampai blackout? "Lagi stres kerjaan, butuh healing."
Nyogok orang dalem buat masukin anak sekolah? "Usaha orang tua demi anak."
Kita jago banget ngeles. Kita punya sejuta dalil pembenar untuk dosa-dosa yang "enak" dan "menguntungkan". Tapi begitu disodori menu non-halal, mendadak kita jadi ustadz paling taat sedunia.
Ini bukan berarti makan babi itu harus dibilang halal. Bukan. Poinnya adalah ketimpangan reaksi kita. Kita kehilangan rasa jijik pada korupsi. Kita kehilangan rasa takut pada perilaku mengambil hak orang lain. Kita cuma menyisakan rasa takut itu pada seekor hewan yang bahkan nggak punya salah apa-apa selain dagingnya gurih (kata yang pernah coba).
Agama akhirnya cuma jadi identitas di KTP atau barrier terakhir biar nggak merasa berdosa total. "Setidaknya gue nggak makan babi," adalah kalimat penghibur diri paling menyedihkan bagi para pendosa yang sebenarnya punya dosa jauh lebih besar.
Saran Penulis (Tentu Saja Tidak Didengar)
Mungkin sudah saatnya kita merevisi cara kita memandang "haram".
Coba bayangkan kalau kita merasa jijik sama uang hasil korupsi, persis seperti kita jijik sama liur anjing atau daging babi. Bayangkan kalau tangan pejabat gemetar ketakutan saat mau nerima suap, sama kayak gemetarnya orang saleh disuruh makan sate jamu.
Bayangkan kalau netizen sesangar itu menyerang koruptor, sama sangarnya kayak mereka nyerang orang yang salah masuk warung makan.
Tapi sepertinya itu masih jauh. Untuk saat ini, kita nikmati saja pertunjukan komedi tragis ini. Di mana maling teriak maling, pezina menghakimi peminum, dan semuanya sepakat bersatu memusuhi babi guling, sambil diam-diam menggerogoti uang negara sampai ke tulang-tulangnya.
Jadi, mau pesan apa? Beer satu tower, silakan. Tapi awas, keripiknya jangan yang mengandung babi ya. Nanti batal masuk surga.

Posting Komentar