Kita Sibuk Mikirin IHSG, Padahal Token Listrik Udah Bunyi

Ditulis oleh Wahib Irawan
Desember 15, 2025

Melek investasi saja tak cukup, pikiran harus lebih rasional

Pernah merasa nggak sih kalau timeline media sosial kita belakangan ini isinya cuma dua jenis manusia? Pertama, mereka yang pamer liburan ke Jepang pakai paylater. Kedua, para "Suhu Saham" yang kerjaannya flexing portofolio hijau sambil ceramah soal kebebasan finansial di usia 25.

Jujur saja. Kelompok kedua ini jauh lebih bikin mental down daripada kelompok pertama.

Bayangkan situasinya. Kita sedang duduk di kosan petak, kipas angin bunyi kretek-kretek, makan malam dengan menu "4 sehat 5 nggak punya duit" (baca: nasi telor kecap). Tiba-tiba lewat satu video TikTok. Isinya anak muda yang mukanya glowing, bilang kalau gaji UMR itu bukan alasan buat nggak investasi. Katanya, kalau nggak mulai dari sekarang, kita bakal miskin selamanya.

Duh, pedih, Sob.

Masalahnya bukan pada ajakannya. Masalahnya ada pada realitas dompet kita yang sering kali nggak sinkron sama ambisi itu. Kita terjebak dalam FOMO (Fear of Missing Out) investasi yang akut. Kita memaksakan diri buat jadi investor, padahal secara fundamental ekonomi pribadi, kita ini masih masuk kategori "penyintas tanggal tua".

Logika "Skip Kopi" yang Nggak Nendang

Narasi yang paling sering kita dengar adalah: "Coba deh kurangin ngopi Rp50 ribu sehari. Sebulan udah bisa beli berapa lot saham BBCA?"

Hitungan matematikanya benar. Tapi logikasinya cacat buat mayoritas kaum UMR.

Pertama, siapa yang minum kopi Rp50 ribu setiap hari? Kita ini sobat kopi saset, Sob. Paling banter kopi susu gula aren promo ojol yang harganya Rp18 ribu. Kedua, kalaupun uang kopi itu kita tabungin atau masukin ke Reksadana, apakah serta-merta kita jadi kaya raya?

Belum tentu. Karena sering kali, uang dingin yang harusnya buat investasi itu sebenarnya adalah uang panas. Panas banget malah. Itu uang buat jaga-jaga kalau ban motor bocor atau tiba-tiba ada undangan nikahan teman SD yang nggak akrab-akrab amat tapi maksa undang.

Data dari KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) memang menunjukkan lonjakan investor ritel yang didominasi Gen Z dan Milenial. Angkanya tembus belasan juta SID. Keren. Tapi pertanyaannya, berapa banyak dari akun-akun itu yang portofolionya sehat? Atau jangan-jangan, mayoritas isinya cuma saham gocap yang nyangkut di pucuk, hasil ikut-ikutan grup Telegram yang nggak jelas juntrungannya?

Kita sibuk mikirin pergerakan IHSG atau harga Bitcoin yang lagi to the moon, padahal token listrik di kontrakan udah bunyi tit-tit-tit minta diisi. Prioritas kita jadi terbalik.

Investasi atau Judi Berkedok Aplikasi?

Ini bagian paling absurd. Karena FOMO, banyak dari kita yang loncat langsung ke instrumen investasi risiko tinggi tanpa benerin fondasi dulu.

Gaji pas-pasan, Dana Darurat nol besar, asuransi cuma ngandelin BPJS (itu pun kadang nunggak), tapi berani-beraninya masukin separuh gaji ke Kripto atau saham gorengan. Alasannya? Pengen cepat kaya.

Padahal, investasi itu butuh napas panjang. Warren Buffett bisa kaya karena dia sabar, bukan karena dia nekat pakai uang belanja bulanan buat beli saham. Ketika pasar lagi merah membara (seperti sering terjadi), mereka yang punya uang dingin bisa tidur nyenyak. Lah kita? Kita bakal panik, stres, dan akhirnya cut loss sambil misuh-misuh di Twitter.

Bukannya untung (cuan), malah buntung (boncos). Niat hati mau investasi, jatuhnya malah kayak donasi ke bandar.

Berdamai dengan Angka

Tulisan ini bukan buat melarang kamu investasi. Bukan. Investasi itu penting buat ngelawan inflasi yang makin gila. Harga beras naik, biaya kos naik, sementara gaji naiknya malu-malu kucing. Kita butuh investasi.

Tapi, tolong rasionalkan dulu ekspektasinya, Guys.

Kalau gaji kita masih UMR atau sedikit di atasnya, fokus utama harusnya bukan "gimana cara melipatgandakan uang". Fokus utamanya adalah "gimana cara meningkatkan income". Skill apa yang bisa kita pelajari? Sampingan apa yang bisa kita kerjain tanpa ganggu kerjaan utama?

Investasi leher ke atas (belajar skill baru) sering kali return-nya jauh lebih tinggi daripada maksa beli saham 1 lot tapi tiap hari senam jantung.

Jangan memaksakan gaya investasi ala sultan kalau pendapatan masih ala kadarnya. Mulailah dari yang receh tapi konsisten. Reksa dana pasar uang, emas, atau sekadar menuhin celengan ayam buat dana darurat 3 bulan pengeluaran. Itu jauh lebih gentle buat kesehatan mental kita.

Nggak usah silau sama teman yang pamer profit 100% di Instagram Story. Kita nggak pernah tahu, mungkin di balik satu story pamer profit itu, ada sepuluh transaksi loss yang dia sembunyikan rapat-rapat.

Jadi, sebelum buka aplikasi sekuritas hari ini, cek dulu: Token listrik aman? Uang makan aman? Kalau aman, baru deh sikat. Kalau belum, ya mending beresin hidup di dunia nyata dulu sebelum bermimpi jadi raja di dunia pasar modal.

Posting Komentar