Kegiatan Orang Dewasa: Pura-pura Baik-baik Saja

Ditulis oleh Wahib Irawan
Desember 17, 2025
Seni Menipu Diri: Saat "Aku Gak Apa-apa" Menjadi Mantra.

Kita semua adalah penipu ulung yang tak pernah ikut casting film.

Coba ingat kapan terakhir kali seseorang bertanya "Apa kabar?" dan kamu menjawab dengan jujur. Bukan jawaban otomatis "Baik, alhamdulillah," atau "Aman, Bro," tapi jawaban yang benar-benar menggambarkan isi kepala yang mungkin sedang semrawut seperti kabel di tiang listrik Jakarta.

Jarang. Atau mungkin tidak pernah.

Menjadi dewasa ternyata bukan soal kebebasan finansial atau bisa pulang malam sesuka hati. Dewasa itu, pada dasarnya, adalah sebuah kurikulum terselubung tentang bagaimana memvalidasi perasaan orang lain sambil mematikan perasaan sendiri. Kita belajar menelan teriakan, lalu mengeluarkannya dalam bentuk senyum tipis yang sopan.

Basa-Basi yang Menjadi Konstitusi

Mekanisme pertahanan diri ini bukan tanpa alasan. Kita hidup di negara dengan budaya basa-basi nomor wahid. Pertanyaan "Apa kabar?" di Indonesia seringkali bukan pertanyaan investigatif tentang kesehatan mentalmu. Itu cuma salam pembuka, setara dengan "Permisi".

Kalau kamu nekat menjawab jujur, misalnya: "Sebenarnya gue lagi stres berat, cicilan numpuk, dan atasan gue baru aja ngasih revisi yang nggak ngotak," lawan bicaramu pasti bakal glitch. Mereka nggak siap. Alih-alih simpati, kamu malah bakal disuguhi menu "Adu Nasib" atau kalimat-kalimat penghakiman berbalut motivasi religius.

"Ah, lu masih mending. Coba liat si X..." atau yang paling klasik, "Makanya banyakin bersyukur, mungkin lu kurang ibadah."

Sakit, Nder. Daripada denger ceramah dadakan dari orang yang hidupnya juga belum tentu beres, kita memilih jalur aman: Pura-pura baik-baik saja. Kita mengangguk, senyum, lalu mengalihkan topik ke cuaca atau gosip selebgram yang lagi blunder.

Validasi Semu di Layar 6 Inci

Masalahnya makin runyam ketika kita masuk ke ranah digital. Instagram dan LinkedIn adalah panggung sandiwara terbesar abad ini. Di sana, semua orang terlihat punya hidup yang well-put-together. Teman SMA baru dipromosikan jadi Head of Something, sepupu lagi liburan di Labuan Bajo, dan tetangga baru beli mobil listrik.

Sementara kita? Kita sibuk scrolling sambil makan mie instan di kosan, mikirin token listrik yang sebentar lagi bunyi "tit-tit-tit" persis sirene kematian.

Kita pun tergerak untuk ikut main peran. Posting foto kopi estetik dengan caption tentang "Monday Hustle", padahal aslinya lagi nahan nangis di toilet kantor karena burnout. Kita memoles realitas biar nggak kelihatan kalah. Padahal, dewasa itu bukan kompetisi siapa yang paling bahagia, tapi siapa yang paling jago menahan diri buat nggak gila.

Topeng Itu Perlu, Tapi Jangan Sampai Menempel Permanen

Sebenarnya, pura-pura baik-baik saja itu nggak sepenuhnya dosa. Itu adalah skill bertahan hidup. Bayangkan kalau semua orang jujur 100% setiap saat. Rapat mingguan bakal jadi sesi terapi massal. Kasir minimarket bakal curhat soal pacarnya sambil scan belanjaanmu. Dunia bakal chaos.

Kita butuh kepura-puraan itu supaya roda kehidupan tetap berputar. Supaya kerjaan kelar. Supaya orang tua di kampung nggak kepikiran.

Tapi, bahayanya muncul saat kita lupa cara melepas topeng itu. Saat kita mulai meyakini kebohongan kita sendiri. Kamu bilang "Gue gak apa-apa" begitu sering sampai kamu lupa apa yang sebenarnya kamu rasakan. Emosi yang dipendam itu nggak hilang, dia cuma ngumpet. Numpuk. Dan kayak sampah yang nggak diangkut berminggu-minggu, lama-lama dia bakal membusuk dan meledak.

Ledakannya bisa macem-macem. Bisa jadi penyakit fisik, bisa jadi breakdown tiba-tiba cuma gara-gara tumpahan air, atau jadi apatis total terhadap sekeliling.

Cari Tong Sampahmu Sendiri

Jadi, apa solusinya? Haruskah kita jadi cengeng dan ngeluh di setiap kesempatan? Tentu tidak. Kita tetap harus profesional di jam kerja dan sopan di acara keluarga.

Kuncinya adalah punya "Tong Sampah".

Cari satu atau dua orang-bisa sahabat, pasangan, atau kalau ada rezeki lebih, profesional-di mana kamu bisa jadi versi dirimu yang paling jelek, paling lemah, dan paling berantakan. Orang yang ketika kamu bilang "Gue capek banget," dia nggak bakal nyuruh kamu bersyukur, tapi cuma bakal bilang, "Sini, pesen GoFood, kita maki-maki dunia bareng-bareng."

Menjadi dewasa itu melelahkan. Belajar pura-pura kuat itu bagian dari paketnya. Tapi ingat, bahkan aktor terbaik pun butuh jeda syuting buat jadi diri sendiri. Jangan sampai peran "Saya Baik-Baik Saja" ini membunuh karakter aslimu pelan-pelan.

Lagian, siapa sih yang mewajibkan kita harus selalu kuat? Kadang, prestasi terbaik hari ini cuma sekadar berhasil bangun dari kasur dan nggak banting handphone. Dan buat saya, itu sudah cukup hebat.

Posting Komentar