Belajar Merampas Kebahagiaan Orang Lain Melalui Kaum Mendang-mending
Baru kemarin sore aku pamer sepatu lari baru ke grup WhatsApp. Niatnya sederhana. Cuma ingin validasi kecil-kecilan biar semangat lari pagi tidak luntur di hari ketiga. Belum sempat stiker jempol bermunculan. satu pesan masuk merusak segalanya.
"Yah. harga segitu mending beli merek lokal X. Spek solnya sama persis. sisa duitnya bisa buat beli jam tangan pintar dua biji."
Rasanya seperti sedang menikmati es krim di hari panas, lalu ada orang lewat menaburkan pasir ke atasnya sambil bilang itu topping kalsium. Kenikmatan itu lenyap seketika. digantikan oleh rasa bersalah yang tidak perlu. Inilah wajah asli kita hari ini. Kita hidup di zaman ketika kepuasan batin harus selalu tunduk pada hitung-hitungan matematis orang lain yang bahkan tidak ikut patungan.
Kaum "mendang-mending" ini adalah spesies unik. Mereka memiliki kemampuan mengubah setiap kebahagiaan subjektif menjadi debat kusir objektif yang melelahkan.
Tuhan Menciptakan Selera, Setan Membisikkan Spesifikasi
Masalah terbesar dari pasukan mendang-mending bukan pada saran hemat mereka. Masalahnya ada pada ketidakmampuan mereka memahami bahwa manusia bukan robot yang berjalan berdasarkan efisiensi data.
Kalau hidup ini cuma soal spesifikasi di atas kertas. tidak akan ada orang yang beli motor Vespa tua yang mogok tiap dua minggu. Semua orang pasti naik motor bebek injeksi yang iritnya minta ampun. Tapi kita beli Vespa bukan karena kita butuh alat transportasi efisien. Kita beli karena suaranya. karena getarannya. karena kenangan yang menempel di jok kulitnya.
Logika mendang-mending itu ibarat menyuruh orang yang sedang jatuh cinta untuk putus saja. alasannya karena pacarnya tidak kaya raya. "Mending sama si B. gajinya dua digit." Padahal hati tidak bekerja seperti HRD yang merekrut karyawan. Ada variabel bernama 'rasa' yang tidak bisa dikonversi ke dalam lembar spesifikasi teknis atau rasio harga per performa.
Mereka melihat dunia sebagai deretan angka di Excel. sementara kamu sedang berusaha menulis puisi. Jelas tidak akan nyambung.
Dari Rakit PC Turun ke Hati
Dulu. fenomena ini cuma ramai di kalangan teknisi komputer atau pecinta gawai. Frasa legendaris "Mending rakit PC" adalah mantra suci mereka setiap kali melihat ada orang beli laptop mahal atau konsol gim.
Sekarang di tahun 2024. wabah ini sudah bermutasi ke sel-sel kehidupan yang paling personal. Kamu mau nikah di gedung karena ingin ratu sehari? Mereka bilang. "Mending nikah di KUA. uangnya buat DP rumah subsidi di pinggiran kota."
Kamu mau beli kopi mahal sesekali buat self-reward? Mereka nyamber. "Mending bikin kopi sachet. rasanya sama aja. sisa duitnya bisa ditabung buat haji."
Saran mereka terdengar logis. bahkan mulia. Tapi di balik itu ada arogansi terselubung. Seolah-olah cara mereka membelanjakan uang adalah satu-satunya jalan kebenaran. Padahal seringkali kalimat "mending ini mending itu" hanyalah mekanisme pertahanan diri. Mereka sedang menutupi ketidakmampuan (atau kepelitan) diri sendiri dengan cara merendahkan pilihan orang lain yang berani membayar lebih untuk sebuah pengalaman.
Menjadi Polisi Moral di Jalan Raya Keinginan Orang Lain
Kita perlu sepakat satu hal. Uangmu adalah otentisitasmu. Cara kita menghabiskan uang adalah cermin dari apa yang kita hargai dalam hidup. Ada yang menghargai kenyamanan. ada yang menghargai gengsi. ada yang menghargai durabilitas. Tidak ada yang salah.
Menjadi kaum mendang-mending itu melelahkan. Kamu harus selalu siaga menjadi auditor keuangan bagi kehidupan orang lain yang tidak pernah memintanya. Bayangkan betapa sepinya hidup jika setiap kali kita melihat keindahan. otak kita langsung sibuk mencari alternatif yang lebih murah.
Biarkan orang membeli iPhone terbaru walau fiturnya cuma terpakai buat WhatsApp. Biarkan temanmu membeli motor yang boros bensin cuma karena bentuknya lucu. Biarkan tetanggamu liburan ke Jepang padahal tabungannya pas-pasan. Itu cara mereka merayakan hidup di tengah gempuran dunia yang makin tidak masuk akal ini.
Kadang. hal terbaik yang bisa kita lakukan saat melihat pilihan orang lain yang menurut kita tidak efisien adalah diam. Karena kalau dipikir-pikir. daripada sibuk mengomentari dompet orang lain. mending kita urus tagihan paylater sendiri yang sebentar lagi jatuh tempo.
Posting Komentar