Kecanduan 'Nanti': Apa Bahagia Cuma 'Hadiah' Setelah Semua Ada?

Ditulis oleh Wahib Irawan
Desember 16, 2025
Fokus pada kenikmatan sederhana di depan mata, biarkan ambisi besar menjadi latar belakang yang tidak mengganggu fokus saat ini.

Kita punya penyakit kronis yang susah sembuh: sindrom "nanti dulu".

Coba perhatikan pola pikir kita sendiri. Rasanya hidup baru benar-benar dimulai kalau saldo rekening sudah menyentuh angka tertentu. Kita merasa baru boleh bernapas lega kalau status karyawan kontrak sudah berubah jadi tetap. Atau yang paling klise, kita baru merasa valid sebagai manusia sukses kalau sudah bisa update Instagram Story lagi healing di Ubud sambil pamer laptop terbuka di pinggir sawah.

Padahal, realitanya nggak seindah itu, Sob.

Menunggu momen besar untuk bersyukur itu sama konyolnya dengan menahan napas sampai Jakarta bebas macet. Mustahil. Kamu bakal mati konyol duluan karena kehabisan oksigen.

Transaksi Dagang dengan Tuhan

Masalah utama kita adalah sering memperlakukan rasa syukur seperti transaksi dagang di Pasar Tanah Abang. Ada tawar-menawar yang alot.

"Tuhan, kalau tahun ini aku bisa kebeli iPhone 16 Pro Max, aku janji nggak bakal ngeluh lagi soal kerjaan."

Lihat betapa transaksionalnya kalimat itu. Kita secara tidak sadar menyandera kebahagiaan sendiri dengan syarat dan ketentuan yang kita buat-buat. Kita menaruh standar kebahagiaan di masa depan yang belum pasti, sementara masa kini dibiarkan lewat begitu saja kayak tukang paket yang cuma teriak "Paket!" terus kabur.

Syarat & Ketentuan Bahagia

Mentalitas tunggu ini, tunggu itu membuat kita buta. Kita jadi lupa kalau hal-hal yang dulu kita impikan, mungkin sebenarnya sudah kita miliki sekarang. Ingat waktu kamu masih nganggur dan berdoa minta kerjaan apa saja asal bisa makan? Sekarang setelah kerja, malah sibuk ngedumel karena bos toxic atau AC kantor kurang dingin.

Manusia itu makhluk yang gampang lupa daratan kalau sudah nyaman.

Racun "Rumput Tetangga Lebih Aesthetic"

Nggak bisa dipungkiri, media sosial adalah kompor gas yang membakar rasa cukup kita. Algoritma didesain supaya kita merasa kurang. Buka TikTok, isinya anak umur 20 tahun sudah punya rumah sendiri. Buka LinkedIn, teman seangkatan baru dipromosikan jadi VP di startup unicorn.

Sementara kita? Masih deg-degan nunggu token listrik bunyi tit-tit-tit di tanggal tua.

Dunia digital memaksa kita membandingkan behind the scene kehidupan kita yang berantakan dengan highlight reel orang lain yang sudah diedit pakai filter Paris. Jelas kalah telak.

Rasa syukur jadi barang mahal karena standar kepuasan kita digeser paksa oleh validasi orang lain. Kita merasa belum pantas bersyukur kalau pencapaian kita belum dapat "Like" yang banyak. Ini bahaya. Kalau kebahagiaanmu tergantung pada notifikasi HP, kamu sudah menyerahkan kendali hidupmu pada server di Silicon Valley.

Bersyukur Bukan Berarti Pasrah (Jangan Salah Kaprah)

Di sini sering terjadi salah paham. Kalau ada orang bilang "bersyukur aja dulu", seringkali dianggap sebagai ajakan untuk jadi manusia pasif. Seolah-olah kita disuruh nrimo ing pandum kayak kain pel basah yang diinjak-injak kehidupan.

Salah besar.

Bersyukur dan berambisi itu bisa jalan barengan. Kamu bisa tetap mengejar gaji dua digit, bisa tetap nabung buat DP rumah, tapi tanpa harus membenci keadaanmu sekarang.

Bersyukur itu strategi bertahan hidup. Ini adalah cara kita menjaga kewarasan di tengah gempuran cicilan dan ekspektasi orang tua. Kalau kamu nunggu sukses dulu baru mau senyum, perjalanan menuju sukses itu bakal terasa seperti neraka.

Coba bayangin. Kamu kerja keras bagai kuda (seperti lirik lagu sebelah), tapi setiap hari isinya cuma sumpah serapah. Begitu sampai di puncak, energimu sudah habis. Kamu sampai di garis finis dengan kondisi mental hancur lebur. Apa gunanya?

Seni Menikmati Hal Remeh

Jadi, solusinya apa? Mulailah meromantisasi hal-hal kecil yang sering luput dari radar.

Serius. Nikmat itu seringnya ngumpet di tempat yang nggak kita duga.

Bahagia itu bisa sesederhana nemu uang dua ribu rupiah di saku celana jeans yang lama nggak dipakai. Atau momen ketika abang ojol datang cepet pas kamu lagi buru-buru. Atau sensasi menyeruput kopi saset di pagi hari sebelum chaos pekerjaan menyerang.

Terdengar receh? Memang. Tapi justru yang receh-receh ini yang bikin hidup jadi bearable.

Jangan menunda bahagia sampai semua masalahmu kelar. Masalah itu kayak cucian kotor, bakal ada terus selama kita masih hidup. Kalau nunggu semua beres, keburu masuk liang lahat.

Berhenti sebentar. Tarik napas. Lihat sekeliling. Kamu masih hidup, masih bisa baca tulisan ini, dan kemungkinan besar perutmu nggak kelaparan. Itu start yang bagus. Sisa-sisa ambisinya? Kejar pelan-pelan sambil menikmati perjalanan.

Karena pada akhirnya, hidup itu terjadi di hari ini. Bukan kemarin yang sudah lewat, atau besok yang belum tentu kita punya.

Posting Komentar