Anak 90-an, Usia Sudah Tak Lagi Muda Namun Enggan Dipanggil Tua
Duduk sebentar. Tarik napas. Kalau ada bunyi "kretek" di punggung atau lutut kalian saat melakukan gerakan sederhana itu, selamat datang di klub. Kita resmi tua, Nder.
Meskipun playlist Spotify kita isinya masih Sheila on 7 atau Paramore, dan outfit kita mati-matian menolak tua dengan sneakers yang makin chunky, KTP tidak bisa bohong. Kita yang lahir di rentang 1990 sampai 1999 sekarang ada di usia 26 sampai 35 tahun. Bukan lagi "pemuda harapan bangsa", tapi lebih tepatnya "tulang punggung keluarga yang mulai rapuh".
Kita adalah generasi transisi. Generasi yang sempat ngerasain ribetnya gulung kaset pita pakai pensil, tapi sekarang dipaksa paham algoritma TikTok biar nggak dibilang cringe sama anak magang kantor.
Rumah: Mimpi di Siang Bolong
Mari bicara soal gajah di pelupuk mata yang pura-pura nggak kita lihat: Rumah.
Narasi orang tua kita dulu simpel: "Kerja keras, nabung, beli rumah." Masalahnya, rumus itu sudah kadaluwarsa. Data dari Rumah123 atau laporan Indonesia Property Market menunjukkan kenaikan harga properti residensial tahunan konsisten di angka 5% hingga 7% per tahun. Kedengarannya kecil? Tunggu dulu.
Kenaikan gaji rata-rata di Indonesia (kalau kalian beruntung nggak kena badai layoff) seringkali cuma ngepas inflasi, atau malah di bawahnya. Menurut data BPS, rata-rata kenaikan upah riil buruh/karyawan seringkali stagnan.
Jadi, ketika harga rumah tipe 36 di pinggiran Jakarta (yang kalau mau ke kantor butuh effort kayak mau pergi haji) sudah tembus Rp500 juta sampai Rp800 juta, dan gaji kita masih UMR plus uang makan, hitungan matematikanya jadi horor.
Kita nabung mati-matian, tapi harga properti larinya kayak Usain Bolt. Kita cuma bisa jalan kaki. Akhirnya? Kita terjebak jadi "Kontraktor" abadi atau penghuni kos-kosan elit demi sanity biar nggak tua di jalan.
Generasi Sandwich: Roti Lapis Rasa Kecemasan
Belum selesai urusan papan, kita dihantam realita posisi kita dalam keluarga. Kita adalah Sandwich Generation yang sesungguhnya.
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS sering menunjukkan angka rasio ketergantungan yang tinggi. Banyak dari kita yang gajinya sudah dipotong pajak, dipotong BPJS, eh masih harus dipotong lagi buat transferan ke orang tua di kampung dan biaya sekolah adik.
Beban ini gila. Riset dari Katadata Insight Center pernah menyebut bahwa hampir separuh milenial Indonesia menanggung beban finansial keluarga besar. Kita mau egois dikit buat self-reward, rasanya dosa. Mau nggak bantu, orang tua nggak ada dana pensiun.
Hasilnya? Kita jadi generasi yang paling akrab sama burnout. Kita kerja keras bukan buat kaya, tapi biar nggak miskin-miskin amat.
Paylater: Penyelamat atau Malaikat Maut?
Karena beli rumah mustahil dan beban hidup berat, pelarian kita ke mana? Benar. Kopi mahal, tiket konser, dan open table di Senopati.
Ini fenomena psikologis yang nyata. Namanya Doom Spending. Karena masa depan terlihat suram dan rumah nggak terjangkau, mending uangnya dipakai buat senang-senang sekarang. Masalahnya, duitnya seringkali nggak ada.
Masuklah pahlawan kesiangan kita: Paylater.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per pertengahan 2024 menunjukkan piutang pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) tumbuh gila-gilaan, tembus triliunan Rupiah. Dan tebak siapa penyumbang kredit macet yang cukup signifikan? Yak, usia produktif kayak kita.
Kita gesek sekarang, pusingnya bulan depan. Tagihan Paylater menumpuk jadi gunung es yang siap menenggelamkan kapal Titanic finansial kita. Niat hati mau healing, malah jadi pusing dikejar debt collector online.
Menolak Tua, Tapi Badan Nggak Bisa Bohong
Di tengah gempuran ekonomi makro yang bikin mikir keras, kita masih berusaha relevan. Kita ogah dipanggil "Bapak" atau "Ibu" sama anak SMA. Kita maunya dipanggil "Kak".
Tapi fisik kita pengkhianat. Begadang dikit, masuk angin tiga hari. Makan santan dikit, kolesterol menyapa. Olahraga futsal atau lari di GBK bukan lagi buat prestasi, tapi biar nggak mati muda kena serangan jantung.
Kita ada di fase canggung. Mau nongkrong sama Gen Z, nggak ngerti bahasa mereka yang penuh singkatan aneh. Mau gabung sama Boomer, pembahasannya terlalu berat soal politik praktis dan tanah warisan.
Akhirnya kita cuma punya sesama kita. Nongkrong di kedai kopi, bahas pekerjaan yang toxic, atasan yang micromanaging, sambil saling oper minyak angin aromaterapi.
Kita adalah anak 90-an. Generasi yang dibesarkan dengan janji manis "belajar rajin biar sukses", lalu dilempar ke dunia kerja yang sikut-sikutan dengan AI dan ketidakpastian ekonomi global.
Nasib kita memang agak ampas, Sob. Tapi setidaknya, kita punya selera musik yang bagus dan meme yang lucu untuk menertawakan penderitaan ini. Jangan lupa minum vitamin dan bayar tagihan sebelum jatuh tempo.
Salam encok.


Posting Komentar