Alasan Kenapa Kita Diam-diam Mencintai Hidup yang ‘Template’
Jam 6.30 pagi. Alarm bunyi untuk kali ketiga setelah dua kali di-snooze. Kamu bangun dengan nyawa yang baru terkumpul setengah, sikat gigi dengan gerakan yang sama persis seperti kemarin, lalu memesan ojol ke titik jemput yang itu-itu lagi. Di jalan, playlist Spotify memutar lagu yang sama karena algoritmanya sudah hapal betul selera musikmu yang stuck di era 2010-an.
Ini bukan deja vu. Ini cuma hari Selasa. Dan besok bakal sama lagi.
Kita sering banget ngedumel soal rutinitas. Katanya membosankan. Katanya mematikan kreativitas. Kita pasang status WA atau story Instagram dengan caption sok puitis tentang "butuh liburan" atau "ingin kabur dari realitas". Tapi jujur saja, kalau rutinitas itu tiba-tiba hilang, kita bakal panik setengah mati.
Kita ini makhluk yang aneh. Kita benci kebosanan, tapi kita kecanduan rasa aman.
Jebakan Autopilot yang Membuai
Coba cek riwayat pesanan makanan online kamu. Berapa kali kamu memesan menu yang sama di resto yang sama dalam sebulan terakhir?
Nasi Padang lauk rendang? Ayam geprek level 3?
Kita bilang kita mau "petualangan", tapi giliran disuruh milih menu makan siang yang beda sedikit saja, overthinking-nya bisa 20 menit. Ujung-ujungnya balik lagi ke pilihan aman. Kenapa? Karena mikir itu capek. Mengambil keputusan itu menguras energi.
Rutinitas adalah cara otak kita masuk mode "Hemat Daya". Kita membiarkan tubuh bergerak secara autopilot. Kaki melangkah otomatis ke stasiun, tangan otomatis nge-tap kartu, jempol otomatis membuka Instagram begitu ada jeda waktu kosong dua detik. Tanpa sadar, hidup kita jadi sekumpulan algoritma yang diprogram oleh kebiasaan.
Aman? Jelas. Seru? Ya nggak lah.
Tapi rasa aman inilah yang bikin kita diam-diam mencintai hidup yang "template". Kita tahu persis jam berapa tukang sayur lewat, jam berapa atasan bakal mulai bad mood, dan jam berapa perut mulai minta diisi gorengan. Prediktabilitas itu menenangkan. Di tengah dunia yang makin gila-harga beras naik, politik makin absurd, cuaca nggak jelas-rutinitas adalah satu-satunya hal yang bisa kita kendalikan. Atau setidaknya, kita merasa begitu.
Romantisasi Akhir Pekan yang Gagal
Ironi paling besar ada di konsep "Akhir Pekan".
Lima hari kerja kita menyiksa diri dengan dalih, "Nanti pas weekend gue mau produktif! Mau lari pagi di GBK, mau baca buku, mau nyoba kafe baru di kota A."
Realitanya?
Sabtu pagi, badan rasanya remuk redam. Niat lari pagi kalah sama selimut dan dinginnya AC. Buku yang dibeli bulan lalu masih terbungkus plastik rapi di atas meja. Akhirnya, kita cuma pindah tempat rebahan dari kasur ke sofa, nonton serial Netflix yang plot-nya gampang ditebak, sambil ngemil keripik pedas.
Kita menukar rutinitas kerja dengan rutinitas kemalasan. Dua-duanya sama-sama repetitif. Kita terjebak dalam siklus "Balas Dendam Tidur" karena merasa waktu di hari kerja sudah dicuri oleh kantor. Jadi saat libur, kita "mengklaim" kembali waktu itu dengan cara tidak melakukan apa-apa.
Nggak salah, sih. Cuma jangan kaget kalau tiba-tiba Minggu malam datang, dan serangan kecemasan alias Sunday Scaries mulai menyapa. Rasanya kayak baru napas bentar, eh besok sudah Senin lagi.
Mencoba "Nakal" Sedikit
Masalahnya bukan pada rutinitasnya, tapi pada mindset kita yang menganggap rutinitas sebagai penjara, padahal kuncinya ada di kantong sendiri.
Kita nggak perlu resign besok pagi lalu jual rumah buat keliling dunia demi "memecah rutinitas". Itu namanya impulsif, bukan solutif. Sob, tagihan listrik dan cicilan paylater nggak bisa dibayar pakai pengalaman spiritual.
Cara melawan kebosanan rutinitas itu sederhana, tapi butuh niat. Coba "rusak" sedikit algoritma hidupmu.
Pulang kerja, coba lewat jalan tikus yang belum pernah kamu lewati (asal jangan pas jam macet total, itu namanya cari penyakit). Di minimarket, beli minuman yang warnanya aneh yang nggak pernah kamu lirik sebelumnya. Ajak ngobrol rekan kerja yang biasanya cuma kamu sapa dengan anggukan kaku.
Hal-hal kecil ini nggak akan mengubah nasibmu secara drastis. Kamu tetap budak korporat, kamu tetap harus bayar pajak. Tapi setidaknya, hal-hal kecil itu memberi sinyal ke otak: "Hei, gue masih pegang kendali. Gue bukan robot."
Hidup yang template itu enak karena mudah. Tapi hidup yang ada "plot twist"-nya sedikit-meskipun cuma sekadar salah pesan menu makan siang-itu yang bikin kita merasa benar-benar hidup.
Jadi, besok pagi, mau pesan kopi yang mana? Yang biasa lagi? Basi. Cobain yang lain. Siapa tahu rasanya seburuk hari Senin, tapi setidaknya itu rasa yang baru.


Posting Komentar